my name is Risma Septia. a girl who loved the novel. Always been a dreamer and have
plenty of imagination is sometimes strange. My hobby is writed but I'm want to be a broadcaster or presenter. Patient, but the mood quickly changed easily. Wanted to achieve what is desired. I love all who love me. Fuss? Can you die?!
Part of some good people in the world. This is my world, this is my life, it's me. Just me! Not him not her or anyone else! Was in a Long Distance Relationship with someone in another dimension. My sweety cats: LOMIMONORASI.
blog dari Risma Septia Junaidi yang masih ngedudukin kelas IXi di SMP 1 Karawang Barat. Jujur gue suka Sunset, Teletubies, dan masih banyak lagi. Kalo disebutin satu-satu gempor gue -_____- Isi blog ini palingan cuma cerita ababil yang gue buat. Atau berisi diary unek-unek gue. Dan gue masih dalam tahap pencarian sahabat :') So, enjoy to read my blog guys ;;)
nama gue siapa sih?
Sabtu, 04 Februari 2012
Rabu, 30 November 2011
Gilang, Dia Kembali...
Sejak hari itu, dimana hari aku dan Gilang berpisah, sulit bagiku merelakan dia pergi. Ah tidak! Aku rindu padanya...
Hari ini hari minggu. Hari yang menurutku membosankan. Gak ada kerjaan di rumah. Aku juga dilarang mengerjakan tugas rumah sama mama. Ternyata dia amat menyangiku.
Ku amati benda itu. Benda yang waktu minggu malam terlepas dari tangan seseorang. Benda yang selalu mengingatkan aku pada Gilang. Hari ini, tepat 3 tahun kejadian lampau itu terjadi. Aku berharap Gilang bisa cepat kembali. Tiba-tiba sura ketukan pintu terdengar dari luar kamarku.
"Gitaaa... Ada Sasa nih! buka pintunya!" Teriak mama dari luar kamarku. Tanpa ba-bi-bu, aku membuka pintu itu. Tampak seorang gadis tersenyum manis, Ya, Dia Sasa. Teman SMA ku yang juga teman kuliahku.
"Heh!"
"Apa lo?"
"Lo tuh kebiasaan tau ga, Git? Kalo minggu pasti dirumah!"
"Abis mau kemana dong? Ke Bali? Gue ga ada duit!"
"Git... Git! Gue punya sepupu nuh! Ganteng deh! Tapi dia bukan Gilang!" Sasa memang sepupunya Gilang. Tapi dia belum tau seberapa jauh aku dan Gilang berteman. Sasa hanya tau aku dan Gilang cuma teman biasa.
"Udah deh, Sa. Gue males punya pacar! Lagian gue udah punya inceran kok!" Kata ku malas sambil membuka laptop ku dan membuka Akun Twitter yang aku pumya.
"Gebetan? Boong banget lo! Yang ini cakep kok Git..." Sasa menatapku. Aku tidak peduli dengan omongan Sasa. Aku masih menunggu Gilang. "...atau jangan jangan lu lesbi?"
"Najis! Udah ah, Sasa. Jangan ngaco!" Sasa cuma ketawa ngedenger kalimat-kalimatku. Dasar Sasa!
Aku mengecek email ku. Siapa tau ada email dari Gilang. Ternyata benar! Gilang ngirim email!
Hey Rin. Apa kabar? Oh iya. Bentar lagi gue pulang. Tunggu ya...
Ingin sekali aku membalas email dari Gilang. Tapi... Ah pulsa modemnya abis! Sialan.
"Git..."
"apa?"
"Liat deh..." Sasa menyodorkan handphonenya ke depan mukaku. Ada foto cowo disitu. Siapa dia aku engga tau dan ga mau tau. "...namanya Danu."
"Danu? Pacar baru?"
"Bukaaaaaaaan! Dia sepupu gue! Yang tadi gue ceritain itu loh!"
"Terus? Gue harus apa? Goyang depan lo?"
"Ck!" Sasa berdecak kesal. Hahaha... Sasa... Sasa...
_____________________________________________________________________________
Senin pagi, Aku berangkat kuliah. Sampai di parkiran, ada yang menyapaku. Aku ga tau itu siapa. Tapi perasaan mukanya mirip-mirip...
"Hay Gita!" Suara Sasa terdengar dari belakang cowo ini. Cowo yang menyapaku tadi. "...kenalin. Nama dia Danu."
Cowo tadi menjulurkan tangan nya ke Gita. "Danu. Danu Ardan" kata cowo itu.
Keren sih. Tapi masih kerenan Gilang! kata aku dalam hati kemudian aku membalas uluran tangan Danu. "Gita Fazrin. Panggil Gita aja." Ucapku tersenyum.
Hari ke 21 aku dekat dengan Danu. Dia baik, lembut, ga bawel. Pasti orang-orang sirik sama aku karena aku dekat dengan Danu. Perasaan itu mulai ada. Eh tunggu... Perasaan? Apa aku swuka pada 2 orang sekaligus? Jangan... Jangan sampai!
Aku di bawa ke suatu tempat yang aku juga tidak tau dimana. Tiba-tiba langkah nya berhenti. akupun ikut berhenti.
"Sekarang coba buka matanya!" Katanya setelah melepas ikatan tali hiitam di mataku. Akupun membuka mataku dan waw! Danu membawaku ke danau yang sangat indah. Disini banyak pepohonan. Aku suka pohon...
"Lo suka?" Danu mulai membuka suaranya. Aku hanya mengangguk tersenyum.
"Git, gue mau nanya."
"Nanya apa?"
"Masih single?" Aku hanya mengangguk lagi. "Boleh buat gue bikin lo ga single lagi?" Tanya nya penuh harap. Danu nembak aku? Aku bergikir sejenak lalu... Menganggukan kepala untuk yang ketiga kalinya. Danu memelukku erat.
"Thankyou Gita..." Ucapnya lirih. Seketika, aku lupa pada Gilang..
________________________________________________________________________________
2 bulan aku jalani hari dengan Danu dan sekarang, dia mengajakku menjemput sepupunya. Kini, kita sudah ada di Bandara. Cerita pesawat yang akan segera mendarat dari Jerman terdengar. Danu mulai menarik tangan ku menuju pintu kedatangan orang-orang dari luar negeri tersebut. Orang -orang dari pesawat sudah membuyar keluar. Danu melambaikan tangan nya ke seseorang. Tunggu tunggu... Apa dia...
"Hey, Lang!" Danu menepuk pundak cowo itu. Gilang! YA DIA GILANG! Bodohnya aku sampai lupa kalo Danu juga sepupu Gilang!
Gilang menatap Danu lalu menatap ku. Tatapan matanya menajam setelah melihat tangan ku dan tangan Danu bergandengan.
"Siapa Dan?" tanya Gilang je Danu. Danu menatapku sebentar.
"Oh, Dia Gita. Pacar gue." Ucap Danu dengan senyuman merekah di bibirnya. Gilang menatapku lagi. Maaf Gilang...
_____________________________________________________________________________
Suara bel rumah ku berbunyi. Mama Papa sedang tidak di rumah. Jafi terpaksa aju yang membuka pintu. Ku kira yang datang Danu. Tapi ternyata...
"Hai, Rin..." Arin. Panggilan pertama yang aju dengar setelah bertenu dengan Gilang. Dia Gilang. Aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Oh, hai Lang. Masuk masuk." Ucap ku sedikit canggung. Gilang menggelengkan kepalanya.
"Engga Rin. Gue cuma bentar. Oh iya. Sejak kapan jadian sama sepupu gue?" Gilang bertanya seperti itu. Pertanyaan yang membuat ku kaku. Tanpa sadar, aku menangis.
"Kok nangis?" tanya Gilang lagi. Ya tuhan, Gilaaaang... Tiba-tiba Gilang memeluk ku dan membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Ga perlu nangis. Gue ga pernah larang lo buat pacaran sama siapa aja. Gue bukan siapa-siapa lo dan kita ga terikat hubungan apapun. Satu yang gue minta. Buat Danu bahagia sebahagia gue kalo gue lagi deket sama lo." Menfengar perkataan Gilang, Tabgis ju membuncah hebat. Gilang melepas pelukannya, menatap ku sambil tersenyum sebentar, lalu pergi.
Saat aku ingin menutup pintu rumah ku, sesorang memegang tangan ju. Aku pun berbalik menghadap dia.
"Gue bisa rasain perasaan lo ke Gilang." Danu. Dia Danu.
"Kalo lo sayang, please kejar dia. Walaupun Harus ngorbanin perasaan gue, gue bakal coba ikhlas." Aku mendongkakan kepalaku yang sedari tadi menunduk. Danu mencium pipiku pelan dan pergi. Seperti halnya Gilang.
__________________________________________________________________________________
Hari ini aku pergi bersama Gilang ke aman yang waktu itu pernah aku kunjungi bersama Gilang. Oh iya. Kemarin malam aku putus dengan Danu.
"Rin, yakiin lo mutusin Danu?"
"Dia yang minta, Lang."
"Jadi sekarang lo jomblo?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Gilang memegang tanganku.
"Pacaran sama gue mau?"
"Gue takut Danu marah. Masa iya Baru kemaren gue putus sekarang udah jadian lagi? mana sama sepupunya!"
Gilang tertawa kecil. "Fia kok yang nyuruh gur nrmbak lo sekarang. Tapi tanpa disuruhpun, rencana gue mau nembak lo pas setelah lo sama Danu putus. Jadi lo ga bisa kemana-mana lagi...." Aku menoleh ke arah Gilang.
"Gue mau jadi pacar lo, Lang." Gilang yang mendengarnya langseng memelukku. Gilang, dia kembali...
Hari ini hari minggu. Hari yang menurutku membosankan. Gak ada kerjaan di rumah. Aku juga dilarang mengerjakan tugas rumah sama mama. Ternyata dia amat menyangiku.
Ku amati benda itu. Benda yang waktu minggu malam terlepas dari tangan seseorang. Benda yang selalu mengingatkan aku pada Gilang. Hari ini, tepat 3 tahun kejadian lampau itu terjadi. Aku berharap Gilang bisa cepat kembali. Tiba-tiba sura ketukan pintu terdengar dari luar kamarku.
"Gitaaa... Ada Sasa nih! buka pintunya!" Teriak mama dari luar kamarku. Tanpa ba-bi-bu, aku membuka pintu itu. Tampak seorang gadis tersenyum manis, Ya, Dia Sasa. Teman SMA ku yang juga teman kuliahku.
"Heh!"
"Apa lo?"
"Lo tuh kebiasaan tau ga, Git? Kalo minggu pasti dirumah!"
"Abis mau kemana dong? Ke Bali? Gue ga ada duit!"
"Git... Git! Gue punya sepupu nuh! Ganteng deh! Tapi dia bukan Gilang!" Sasa memang sepupunya Gilang. Tapi dia belum tau seberapa jauh aku dan Gilang berteman. Sasa hanya tau aku dan Gilang cuma teman biasa.
"Udah deh, Sa. Gue males punya pacar! Lagian gue udah punya inceran kok!" Kata ku malas sambil membuka laptop ku dan membuka Akun Twitter yang aku pumya.
"Gebetan? Boong banget lo! Yang ini cakep kok Git..." Sasa menatapku. Aku tidak peduli dengan omongan Sasa. Aku masih menunggu Gilang. "...atau jangan jangan lu lesbi?"
"Najis! Udah ah, Sasa. Jangan ngaco!" Sasa cuma ketawa ngedenger kalimat-kalimatku. Dasar Sasa!
Aku mengecek email ku. Siapa tau ada email dari Gilang. Ternyata benar! Gilang ngirim email!
Hey Rin. Apa kabar? Oh iya. Bentar lagi gue pulang. Tunggu ya...
Ingin sekali aku membalas email dari Gilang. Tapi... Ah pulsa modemnya abis! Sialan.
"Git..."
"apa?"
"Liat deh..." Sasa menyodorkan handphonenya ke depan mukaku. Ada foto cowo disitu. Siapa dia aku engga tau dan ga mau tau. "...namanya Danu."
"Danu? Pacar baru?"
"Bukaaaaaaaan! Dia sepupu gue! Yang tadi gue ceritain itu loh!"
"Terus? Gue harus apa? Goyang depan lo?"
"Ck!" Sasa berdecak kesal. Hahaha... Sasa... Sasa...
_____________________________________________________________________________
Senin pagi, Aku berangkat kuliah. Sampai di parkiran, ada yang menyapaku. Aku ga tau itu siapa. Tapi perasaan mukanya mirip-mirip...
"Hay Gita!" Suara Sasa terdengar dari belakang cowo ini. Cowo yang menyapaku tadi. "...kenalin. Nama dia Danu."
Cowo tadi menjulurkan tangan nya ke Gita. "Danu. Danu Ardan" kata cowo itu.
Keren sih. Tapi masih kerenan Gilang! kata aku dalam hati kemudian aku membalas uluran tangan Danu. "Gita Fazrin. Panggil Gita aja." Ucapku tersenyum.
Hari ke 21 aku dekat dengan Danu. Dia baik, lembut, ga bawel. Pasti orang-orang sirik sama aku karena aku dekat dengan Danu. Perasaan itu mulai ada. Eh tunggu... Perasaan? Apa aku swuka pada 2 orang sekaligus? Jangan... Jangan sampai!
Aku di bawa ke suatu tempat yang aku juga tidak tau dimana. Tiba-tiba langkah nya berhenti. akupun ikut berhenti.
"Sekarang coba buka matanya!" Katanya setelah melepas ikatan tali hiitam di mataku. Akupun membuka mataku dan waw! Danu membawaku ke danau yang sangat indah. Disini banyak pepohonan. Aku suka pohon...
"Lo suka?" Danu mulai membuka suaranya. Aku hanya mengangguk tersenyum.
"Git, gue mau nanya."
"Nanya apa?"
"Masih single?" Aku hanya mengangguk lagi. "Boleh buat gue bikin lo ga single lagi?" Tanya nya penuh harap. Danu nembak aku? Aku bergikir sejenak lalu... Menganggukan kepala untuk yang ketiga kalinya. Danu memelukku erat.
"Thankyou Gita..." Ucapnya lirih. Seketika, aku lupa pada Gilang..
________________________________________________________________________________
2 bulan aku jalani hari dengan Danu dan sekarang, dia mengajakku menjemput sepupunya. Kini, kita sudah ada di Bandara. Cerita pesawat yang akan segera mendarat dari Jerman terdengar. Danu mulai menarik tangan ku menuju pintu kedatangan orang-orang dari luar negeri tersebut. Orang -orang dari pesawat sudah membuyar keluar. Danu melambaikan tangan nya ke seseorang. Tunggu tunggu... Apa dia...
"Hey, Lang!" Danu menepuk pundak cowo itu. Gilang! YA DIA GILANG! Bodohnya aku sampai lupa kalo Danu juga sepupu Gilang!
Gilang menatap Danu lalu menatap ku. Tatapan matanya menajam setelah melihat tangan ku dan tangan Danu bergandengan.
"Siapa Dan?" tanya Gilang je Danu. Danu menatapku sebentar.
"Oh, Dia Gita. Pacar gue." Ucap Danu dengan senyuman merekah di bibirnya. Gilang menatapku lagi. Maaf Gilang...
_____________________________________________________________________________
Suara bel rumah ku berbunyi. Mama Papa sedang tidak di rumah. Jafi terpaksa aju yang membuka pintu. Ku kira yang datang Danu. Tapi ternyata...
"Hai, Rin..." Arin. Panggilan pertama yang aju dengar setelah bertenu dengan Gilang. Dia Gilang. Aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Oh, hai Lang. Masuk masuk." Ucap ku sedikit canggung. Gilang menggelengkan kepalanya.
"Engga Rin. Gue cuma bentar. Oh iya. Sejak kapan jadian sama sepupu gue?" Gilang bertanya seperti itu. Pertanyaan yang membuat ku kaku. Tanpa sadar, aku menangis.
"Kok nangis?" tanya Gilang lagi. Ya tuhan, Gilaaaang... Tiba-tiba Gilang memeluk ku dan membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Ga perlu nangis. Gue ga pernah larang lo buat pacaran sama siapa aja. Gue bukan siapa-siapa lo dan kita ga terikat hubungan apapun. Satu yang gue minta. Buat Danu bahagia sebahagia gue kalo gue lagi deket sama lo." Menfengar perkataan Gilang, Tabgis ju membuncah hebat. Gilang melepas pelukannya, menatap ku sambil tersenyum sebentar, lalu pergi.
Saat aku ingin menutup pintu rumah ku, sesorang memegang tangan ju. Aku pun berbalik menghadap dia.
"Gue bisa rasain perasaan lo ke Gilang." Danu. Dia Danu.
"Kalo lo sayang, please kejar dia. Walaupun Harus ngorbanin perasaan gue, gue bakal coba ikhlas." Aku mendongkakan kepalaku yang sedari tadi menunduk. Danu mencium pipiku pelan dan pergi. Seperti halnya Gilang.
__________________________________________________________________________________
Hari ini aku pergi bersama Gilang ke aman yang waktu itu pernah aku kunjungi bersama Gilang. Oh iya. Kemarin malam aku putus dengan Danu.
"Rin, yakiin lo mutusin Danu?"
"Dia yang minta, Lang."
"Jadi sekarang lo jomblo?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Gilang memegang tanganku.
"Pacaran sama gue mau?"
"Gue takut Danu marah. Masa iya Baru kemaren gue putus sekarang udah jadian lagi? mana sama sepupunya!"
Gilang tertawa kecil. "Fia kok yang nyuruh gur nrmbak lo sekarang. Tapi tanpa disuruhpun, rencana gue mau nembak lo pas setelah lo sama Danu putus. Jadi lo ga bisa kemana-mana lagi...." Aku menoleh ke arah Gilang.
"Gue mau jadi pacar lo, Lang." Gilang yang mendengarnya langseng memelukku. Gilang, dia kembali...
Gilang, Dia Pergi...
Jam sudah menunjukan jam 8 malam. Tapi aku masih malas-malasan dengan boneka Doraemon kesayangan ku. Boneka yang selalu jadi saksi bisu suasana rumah, hati, dan fikiran ku. PR? abaikan saja. Aku males!
Enggan sekali pergi ke ruang makan walau cacing di perut ku sudah demo minta makan. Aku sendirian di rumah. Mamah, Papah... Ah engga usah urusin mereka. Toh mereka juga tidak ngurusin aku! Engga siang engga malem mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan aku? Aku hanya di anggap boneka yang tak benyawa! Aku benci hidupku!
Ku putuskan untuk tidur. Berharap di alam lain, aku mendapati ketenangan hati. Tapi belum setengah jam aku terlelap, suara itu terdengar kembali. Suara yang sudah sering sekali aku dengar. Aku muak!
"Wanita genit! Pergi pagi pulang malam! Anak kamu di rumah terlantar" Papa. Ya dia papa ku. Bersuara lantang sedang adu argumen dengan seseorang.
"hahaha... Apa kamu bilang? Wanita genit? Intropeksi dulu baru ngomong! Apa kerjaan kamu? mana penghasilan kamu kalau kamu emang kerja?" Mama. Wanita yang rela ku tempati rahim nya untuk aku diami itu ternyata orang yang keras kepala. Tuhan, aku lelah...
Aku memang anak yang beruntung. Semua aku punya. Termasuk orang tua macam mereka yang tak pernah lelah untuk terus ribut!
Aku pergi sementara dari rumah. Mencari udara segar, suasana tenang karena perumahan ini tidak terlalu padat penduduk, dan tentunya makanan karena aku ingat malam ini aku belum makan. Sama sekali belum.
Aku melewati taman kanak-kanak, SD, dan taman bermain. Taman bermain yang memiliki banyak kenangan saat keluarga kami masih utuh. Papa, mama, aku, dan adik ku. Aku rindu semuanya.
Perut ku demo kembali. Aha! di berempatan jalan perumahan ku ada tukang nasi goreng. Kesana aja ya? Lagian aku gak mau magh ku kambuh. Saat aku berjalan, tiba-tiba 2 orang datang dari arah depan dengan pakaian yang menurutku 'kurang bahan'. Tuhan, siapa mereka? Aku takut...
"Aduh, neng cantik, mau kemana malem malem gini keluar..." Satu orang berkicau sambil mencolek pinggang ku. Aku menepis tangan nya yang tidak sopan itu.
"Apaan sih ih?! Sono pergi! Najis!"
"Main-main dulu yuk? Ayolaaah!"
Aku sudah sangat takut.ingin mengambill langkas seribu, salah satu dari mereka menarik tangan ku. Tuhan memang selalu bertolak belakang dengan ku. Apa salahku, tuhan?
Aku berteriak sekencang-kencang nya. Nihil! 2 orang tadi memegang kuat lenganku lalu menghempaskan aku ke tanah. Hampir, hampir sekali mereka merenggut kebahagiaan terakhirku yang selalu aku jaga sebaik mungkin. Sebelum akhirnya seseorang datang menyelamatkan ku. Ia memukul semua penjahat itu sampai mereka pergi. Disini terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat muka orang yang menyelamatkan aku tadi. Ditambah air mata yang membuat basah mataku. Orang itu pergi.
"Terimakasih..." Ucapku lirih dan aku yakin ia pasti tidak mendengar kalimat itu. Tapi tunggu! Handbandnya jatuh! Aku bergerak meraihnya. Handband itu bertuliskan huruf 'G'. Apa mungkin itu inisial ama orang tersebut?
++++++++
Sekolah. Rutinitas yang membosankan. Walaupun aku tidak pernah keluar dari 5 besar, tapi tetap saja aku malas sekolah.
Pelajaran pertama aku lewati dengan mata tertutup. Aku tidur di kelas. Sampai akhirnya Sasa, teman semeja ku membangunkan aku.
"Gitaaaa! Bangun! Udah istirahat tau! Anterin ke kantin!" Sasa berteriak. Dengan langkah malas, aku berjala ke kantin bersama Sasa. Dari pada di teriakin lagi kan?
Sampai di kantin...
"Sa, cuma nganter kan? Ya udah ya dadaaah!" Ucapku sambil meninggalkan kantin.
Kelas bukan tujuan utamaku. Disana kebanyakan cewe-cewe lebay yang selalu membicarakan tentang fashion-cowo-fashion-cowo. Ngeliatnya aja males!
Langkah ku berakhir di taman belakang sekolah. Ayunan keramat ku yang aku pasang saat masih kelas X masih utuh disitu. Di dalam ayunan itu ada beberapa novel yang aku sengaja simpan disana. Sekedar menghilangkan beban. 1 lembar, 3 lembar, 7 lembar, datang seorang cowo keren. Ya. Akui dia memang keren. Dia menghampiriku.
"Hai..."
Apa? Dia menyapaku? Aku hanya membalas dengan senyuman. Jaim dikit bolehlah?
"Cuma mau ngingetin, jangan suka keluar malem-malem ya?" Hah? kok dia tau? "Oh iya, handband gue ada di elo kan?" Lanjutnya.
"Jadi kamu..." Ucapku tidak percaya. Ternyata ini si 'G' itu? Beruntungnya aku. Kali ini, tuhan sangat baik kepadaku...
"Iya. Kenalin, gue Gilang. Gilang Aziz. panggil Gilang aja."
"Oh, hmm. Gue Gita Fazrin. Bisa dipanggil..."
"Arin?" Arin? nama yang tidak terlalu buruk. Aku hanya mengangguk tersenyum. Kami ngobrol seperti orang yang sudah lama kenal. Sampai akhirnya perbincangan kami dipotong oleh bel masuk. Itu pertemuan pertama kami.
+++++++
Beberapa minggu berjalan, makin hari aku makin dekat dengan Gilang. Hari ini Gilang mengajak ku jalan-jalan ke taman bunga. Ah senangnyaaa...
Indah. Itulah kesan pertamaku sewaktu melihat taman ini. Ku lihat seekor kupu-kupu terbang bebas. Ingin sekali aku menangkapnya. Seperti 10 Tahun yang lalu. Sebelum Gina pergi...
"Gilang, ambilin kupu-kupu itu dong!" Rengek ku. Gilang hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik ku ke tempat duduk Kami duduk di situ.
"Lo tau, Rin? Kupu-kupu juga punya kehidupan. Kita ga berhak ngacauin hidupnya hanya karena dia indah. Dia juga punya sayap sendiri." Gilang menatapku. Aku mengalihkan pandangan ke depan.
"Tapi cuma itu, Lang yang bikin gue serasa utuh sama keluarga. Semenjak adik gue, Gina, meninggal karena penyakit paru-parunya. Sampai akhirnya keluarga gue kacau. Mereka terlalu sayang sama Gina. Jadinya mereka ga terima gitu Lang. Semenjak itu mereka lebih suka ada di luar rumah. Gue? Mereka ga perduli sama gue!"
Gilang menatap ku tersenyum. "Coba lo jelasin keinginan lo ke bokap nyokap lo..."
"Percuma! Mereka terlalu batu!"
Sekarang, Gilang memegang tangan ku. Hangat. "Coba dulu!" Kata Gilang. Ah. cowok ini...
++++++
Kejadian sama terulang lagi. Mama Papa ku berantem lagi. Aku sudah capek sama semua ini. Aku keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Kalian apa-apaan sih?! Berantem sana berantem sini. Mau kalian apa sih? Gita disini woy! Jangan anggep Gita ga ada! Apa perlu Gita susul Gina? Hah?!" Ucapku sambil menangis. Mereka terdiam. "Hargain Gita sebagai anak kalian..."
Mama papa memeluk ku. Baru aku rasakan lagi pelukan mereka. Mama ikut menangis bersama ku.Sedangkan Papa mengelus rambutku.
++++++
Dua Bulan berlalu sejak pertamakali aku bertemu dengan Gilang. Tapi sekarang Gilang jarang mengontak ku. Kerumah ku pun sekarang sudah tidak lagi. Akhirnya ak menelpon Sasa. Berharap dia memberi tau alamat Gilang. Baru kemarin aku tau kalau dia sepupu Gilang.
"Halo?... Sa?... Tau rumahnya Gilang ga?... Oh disitu?... Oke makasih sa." Setelah aku mendapat alamat rumah Gilang, aku langsung berangkat ke tempat yang di tuju.
Tidak susah untuk mencari rumah Gilang. Sampai depan rumahnya, aku memencet bel yang ada disamping pagar rumah tersebut. Tidak lama, keluar seorang wanita keturunan cina yang sedang menggendong anjing.
"Permisi, Gilangnya ada?"
"Gilang? Oh anaknya pak Rudi ya? Mereka udah pindah 2 bulan yang lalu. Sekarang rumah ini sudah saya beli." Mendengar ucapan wanita tersebut, aku hampir menangis. Ku ucapkan terimakasih ke wanita itu, lalu pergi ke taman belakan sekolah.
+++++++
Sampai di taman belakang sekolah, aku langsung menangis. Gilang... Kenapa kamu harus pergi?
Tiba-tiiba seseorang memegang pundaku. "Jangan nagis Rin. Maaf kalo aku ga ngasih kabar. Sekali lagi maaf. Aku terpaksa. Maaf." Aku memegang tangan nya. mengisyaratkan agar dia jangan pergi. Dia tersenyum. Aku mulai melepaskan genggaman ku perlahan. Gilang, Dia pergi...
__________________________________________________________________________________________
Enggan sekali pergi ke ruang makan walau cacing di perut ku sudah demo minta makan. Aku sendirian di rumah. Mamah, Papah... Ah engga usah urusin mereka. Toh mereka juga tidak ngurusin aku! Engga siang engga malem mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan aku? Aku hanya di anggap boneka yang tak benyawa! Aku benci hidupku!
Ku putuskan untuk tidur. Berharap di alam lain, aku mendapati ketenangan hati. Tapi belum setengah jam aku terlelap, suara itu terdengar kembali. Suara yang sudah sering sekali aku dengar. Aku muak!
"Wanita genit! Pergi pagi pulang malam! Anak kamu di rumah terlantar" Papa. Ya dia papa ku. Bersuara lantang sedang adu argumen dengan seseorang.
"hahaha... Apa kamu bilang? Wanita genit? Intropeksi dulu baru ngomong! Apa kerjaan kamu? mana penghasilan kamu kalau kamu emang kerja?" Mama. Wanita yang rela ku tempati rahim nya untuk aku diami itu ternyata orang yang keras kepala. Tuhan, aku lelah...
Aku memang anak yang beruntung. Semua aku punya. Termasuk orang tua macam mereka yang tak pernah lelah untuk terus ribut!
Aku pergi sementara dari rumah. Mencari udara segar, suasana tenang karena perumahan ini tidak terlalu padat penduduk, dan tentunya makanan karena aku ingat malam ini aku belum makan. Sama sekali belum.
Aku melewati taman kanak-kanak, SD, dan taman bermain. Taman bermain yang memiliki banyak kenangan saat keluarga kami masih utuh. Papa, mama, aku, dan adik ku. Aku rindu semuanya.
Perut ku demo kembali. Aha! di berempatan jalan perumahan ku ada tukang nasi goreng. Kesana aja ya? Lagian aku gak mau magh ku kambuh. Saat aku berjalan, tiba-tiba 2 orang datang dari arah depan dengan pakaian yang menurutku 'kurang bahan'. Tuhan, siapa mereka? Aku takut...
"Aduh, neng cantik, mau kemana malem malem gini keluar..." Satu orang berkicau sambil mencolek pinggang ku. Aku menepis tangan nya yang tidak sopan itu.
"Apaan sih ih?! Sono pergi! Najis!"
"Main-main dulu yuk? Ayolaaah!"
Aku sudah sangat takut.ingin mengambill langkas seribu, salah satu dari mereka menarik tangan ku. Tuhan memang selalu bertolak belakang dengan ku. Apa salahku, tuhan?
Aku berteriak sekencang-kencang nya. Nihil! 2 orang tadi memegang kuat lenganku lalu menghempaskan aku ke tanah. Hampir, hampir sekali mereka merenggut kebahagiaan terakhirku yang selalu aku jaga sebaik mungkin. Sebelum akhirnya seseorang datang menyelamatkan ku. Ia memukul semua penjahat itu sampai mereka pergi. Disini terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat muka orang yang menyelamatkan aku tadi. Ditambah air mata yang membuat basah mataku. Orang itu pergi.
"Terimakasih..." Ucapku lirih dan aku yakin ia pasti tidak mendengar kalimat itu. Tapi tunggu! Handbandnya jatuh! Aku bergerak meraihnya. Handband itu bertuliskan huruf 'G'. Apa mungkin itu inisial ama orang tersebut?
++++++++
Sekolah. Rutinitas yang membosankan. Walaupun aku tidak pernah keluar dari 5 besar, tapi tetap saja aku malas sekolah.
Pelajaran pertama aku lewati dengan mata tertutup. Aku tidur di kelas. Sampai akhirnya Sasa, teman semeja ku membangunkan aku.
"Gitaaaa! Bangun! Udah istirahat tau! Anterin ke kantin!" Sasa berteriak. Dengan langkah malas, aku berjala ke kantin bersama Sasa. Dari pada di teriakin lagi kan?
Sampai di kantin...
"Sa, cuma nganter kan? Ya udah ya dadaaah!" Ucapku sambil meninggalkan kantin.
Kelas bukan tujuan utamaku. Disana kebanyakan cewe-cewe lebay yang selalu membicarakan tentang fashion-cowo-fashion-cowo. Ngeliatnya aja males!
Langkah ku berakhir di taman belakang sekolah. Ayunan keramat ku yang aku pasang saat masih kelas X masih utuh disitu. Di dalam ayunan itu ada beberapa novel yang aku sengaja simpan disana. Sekedar menghilangkan beban. 1 lembar, 3 lembar, 7 lembar, datang seorang cowo keren. Ya. Akui dia memang keren. Dia menghampiriku.
"Hai..."
Apa? Dia menyapaku? Aku hanya membalas dengan senyuman. Jaim dikit bolehlah?
"Cuma mau ngingetin, jangan suka keluar malem-malem ya?" Hah? kok dia tau? "Oh iya, handband gue ada di elo kan?" Lanjutnya.
"Jadi kamu..." Ucapku tidak percaya. Ternyata ini si 'G' itu? Beruntungnya aku. Kali ini, tuhan sangat baik kepadaku...
"Iya. Kenalin, gue Gilang. Gilang Aziz. panggil Gilang aja."
"Oh, hmm. Gue Gita Fazrin. Bisa dipanggil..."
"Arin?" Arin? nama yang tidak terlalu buruk. Aku hanya mengangguk tersenyum. Kami ngobrol seperti orang yang sudah lama kenal. Sampai akhirnya perbincangan kami dipotong oleh bel masuk. Itu pertemuan pertama kami.
+++++++
Beberapa minggu berjalan, makin hari aku makin dekat dengan Gilang. Hari ini Gilang mengajak ku jalan-jalan ke taman bunga. Ah senangnyaaa...
Indah. Itulah kesan pertamaku sewaktu melihat taman ini. Ku lihat seekor kupu-kupu terbang bebas. Ingin sekali aku menangkapnya. Seperti 10 Tahun yang lalu. Sebelum Gina pergi...
"Gilang, ambilin kupu-kupu itu dong!" Rengek ku. Gilang hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik ku ke tempat duduk Kami duduk di situ.
"Lo tau, Rin? Kupu-kupu juga punya kehidupan. Kita ga berhak ngacauin hidupnya hanya karena dia indah. Dia juga punya sayap sendiri." Gilang menatapku. Aku mengalihkan pandangan ke depan.
"Tapi cuma itu, Lang yang bikin gue serasa utuh sama keluarga. Semenjak adik gue, Gina, meninggal karena penyakit paru-parunya. Sampai akhirnya keluarga gue kacau. Mereka terlalu sayang sama Gina. Jadinya mereka ga terima gitu Lang. Semenjak itu mereka lebih suka ada di luar rumah. Gue? Mereka ga perduli sama gue!"
Gilang menatap ku tersenyum. "Coba lo jelasin keinginan lo ke bokap nyokap lo..."
"Percuma! Mereka terlalu batu!"
Sekarang, Gilang memegang tangan ku. Hangat. "Coba dulu!" Kata Gilang. Ah. cowok ini...
++++++
Kejadian sama terulang lagi. Mama Papa ku berantem lagi. Aku sudah capek sama semua ini. Aku keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Kalian apa-apaan sih?! Berantem sana berantem sini. Mau kalian apa sih? Gita disini woy! Jangan anggep Gita ga ada! Apa perlu Gita susul Gina? Hah?!" Ucapku sambil menangis. Mereka terdiam. "Hargain Gita sebagai anak kalian..."
Mama papa memeluk ku. Baru aku rasakan lagi pelukan mereka. Mama ikut menangis bersama ku.Sedangkan Papa mengelus rambutku.
++++++
Dua Bulan berlalu sejak pertamakali aku bertemu dengan Gilang. Tapi sekarang Gilang jarang mengontak ku. Kerumah ku pun sekarang sudah tidak lagi. Akhirnya ak menelpon Sasa. Berharap dia memberi tau alamat Gilang. Baru kemarin aku tau kalau dia sepupu Gilang.
"Halo?... Sa?... Tau rumahnya Gilang ga?... Oh disitu?... Oke makasih sa." Setelah aku mendapat alamat rumah Gilang, aku langsung berangkat ke tempat yang di tuju.
Tidak susah untuk mencari rumah Gilang. Sampai depan rumahnya, aku memencet bel yang ada disamping pagar rumah tersebut. Tidak lama, keluar seorang wanita keturunan cina yang sedang menggendong anjing.
"Permisi, Gilangnya ada?"
"Gilang? Oh anaknya pak Rudi ya? Mereka udah pindah 2 bulan yang lalu. Sekarang rumah ini sudah saya beli." Mendengar ucapan wanita tersebut, aku hampir menangis. Ku ucapkan terimakasih ke wanita itu, lalu pergi ke taman belakan sekolah.
+++++++
Sampai di taman belakang sekolah, aku langsung menangis. Gilang... Kenapa kamu harus pergi?
Tiba-tiiba seseorang memegang pundaku. "Jangan nagis Rin. Maaf kalo aku ga ngasih kabar. Sekali lagi maaf. Aku terpaksa. Maaf." Aku memegang tangan nya. mengisyaratkan agar dia jangan pergi. Dia tersenyum. Aku mulai melepaskan genggaman ku perlahan. Gilang, Dia pergi...
__________________________________________________________________________________________
Kamis, 17 November 2011
antara gue, dan buku cerita gue ;D
ga penting penting amat sih. cuma kasian aja kalo blog gue kagak ada isinya hihi.Gue hobby banget nulis crita walau crita gue kagak ada bener benernya. ada banyak cerpen yang gue bikin (ANDI BUKAN MAHO, GILANG DIA PERGI, 1000 MERPATI PUTIH, AKU PACAR KAMU, Dll). terus ada cerita panjangan dikt kayak "AGIN, I LOVE YOU AGAIN" yang cuma ada, yah paling 12 lembar buku tulis gue. DIKITTT BANGET! ada "THIRTY DAYS IN SEPTEMBER MONTH" juga yang isinya tentang seorang Qilla yang ngabisin sebulan terakhirnya sama.. sama siapa ya gue lupa. udah ga pernah dilanjut jowwww... terus ada lagi yang nganggur satu gara gara gue pikir ini cerita monoton banget! "SESEORANG DALAM BAYANGAN". nama tokoh gue ambil dari temen gue, si Rani *hay Raniiiii :D* dan pangeran pujaan hatinya yang udah dia tunggu hampir 11 bulan -____-. satu cerita lagi yang ngebangke di tas gue, "WAKTUNYA PACARAN". ceritanya itu tentaaaaaaang... males nyritainnya gue. JIJIK! nah sekarang gue lagi fokus sama cerita gue yang baru. judulnya "5 BINTANG". hhihi. disana ada Dita, miss charming gitulah anaknya tapi ga sombong. Arya yang punya kemampuan lebih di dunia musik. Genta si pemimpin grup volli di SMA nya, Dinka kapten basket paling keren, dan Ferish kebanggan sekolah kalo ada lomba-lomba mata pelajaran. kalo cerita ini udah jadi, gue bakal balik lagi nulis nulis cerpen ga mutu lagi -____- Intinya, ke-5 cerita yang gue bikin cuma 1 yang jadi (yang Agin itu loh!) , 3lagi sekarat (Thirty, SDB samaWaktu), 1 dalam tahap pembuatan (ya 5 BINTANG). mereka selalu gue bawa kemana-mana. ga ke sekolah ga kerja kelompok ga les, mereka tetep ada didalam tas gue. soalnya kalo disimpen di rmah, takut dibakar mama! mama paling ga seneng gue nulis crita gituan. dia cuma mau anknya belajar belajar dan belajar... dia tuh ga tau rasanya jadi gue :'''' abaikan. SO, I LOVE ALL MY STORYYY :3
Jumat, 04 November 2011
esumpah ya gue demen banget sama Raditya Dika :D
kenal Raditya Dika? kanal dong? gak kenal? deso banget lo! dia ganteng paraaaaaah! bukannya selere gue om-om kyk dia ya! gue liat Stand Up Nite, gue baca KambingJantan versi komik maupun versi novelnya, gue baca radikus, dan lo tau apa yg terjadi sam gue? gue kejang-kejangg! oke itu ga lucu. apalagi pas gue liat stand up nite nya! balik dari warnet gue ngompol. kok ada ya orang kyk dia? orang gila yang bisa nyungsep di Australia tanpa punya kemampuan masak satupun. gue slalu inget pas dika meragain adiknya, edgar yg heboh karena anggi bikin cerpen aer pipis gue udah di ujung ujung! pengen punya kak kyk dia yah. orang nya ga pernah serius. ga kayak si itu tuh! abang gue yg sompretnya minta ditimpukin tai monyet! kok jadi curhat. berharp suatu saat gue juga bisa sekolah di aussie sama jadi penulis. muka bang dika muka motivator!
Sabtu, 29 Oktober 2011
blog baru. semangat baru :D
hay hay :D nama gue Risma Septia Junaidi. Cukup panggil Risma aja (gaperlu Junaidi -___-) :). Hmm, gue masih baru di dunia blog. Jadi ya masih ada yang gue belum tau tentang blog. Gue bikin blog ga sembarang bikin. Gue pengen, ini blog bisa jadi sahabat gue kala hujan menghampiri di senja hari lalu muncul pelangi. Oke itu lebay.. Sekalian tempat gue nulis cerita-cerita yang gue bikin. haha cerita alay yang gue sendiri males bacanya. Kemampuan gue cuma sampe cerpen doang. Gak kayak ka Atika yang jago banget bikin cerbung ;D (hay ka Atikaaaa!). Tapi kalo disuruh bikin cerita panjang sih bisa aja ;) ada ga sih istilas CERPAN? kalo ada, nah cuma sampe situ gue bisanya :D Anjrit waktu ngenet gue abis -_- gini nih ga enaknya jagaj punya laptop atau netbook! Saya eeeRRRRisma septia, eeeSSSSSalam, eeeJJJunaidi :*
Langganan:
Postingan (Atom)