Sejak hari itu, dimana hari aku dan Gilang berpisah, sulit bagiku merelakan dia pergi. Ah tidak! Aku rindu padanya...
Hari ini hari minggu. Hari yang menurutku membosankan. Gak ada kerjaan di rumah. Aku juga dilarang mengerjakan tugas rumah sama mama. Ternyata dia amat menyangiku.
Ku amati benda itu. Benda yang waktu minggu malam terlepas dari tangan seseorang. Benda yang selalu mengingatkan aku pada Gilang. Hari ini, tepat 3 tahun kejadian lampau itu terjadi. Aku berharap Gilang bisa cepat kembali. Tiba-tiba sura ketukan pintu terdengar dari luar kamarku.
"Gitaaa... Ada Sasa nih! buka pintunya!" Teriak mama dari luar kamarku. Tanpa ba-bi-bu, aku membuka pintu itu. Tampak seorang gadis tersenyum manis, Ya, Dia Sasa. Teman SMA ku yang juga teman kuliahku.
"Heh!"
"Apa lo?"
"Lo tuh kebiasaan tau ga, Git? Kalo minggu pasti dirumah!"
"Abis mau kemana dong? Ke Bali? Gue ga ada duit!"
"Git... Git! Gue punya sepupu nuh! Ganteng deh! Tapi dia bukan Gilang!" Sasa memang sepupunya Gilang. Tapi dia belum tau seberapa jauh aku dan Gilang berteman. Sasa hanya tau aku dan Gilang cuma teman biasa.
"Udah deh, Sa. Gue males punya pacar! Lagian gue udah punya inceran kok!" Kata ku malas sambil membuka laptop ku dan membuka Akun Twitter yang aku pumya.
"Gebetan? Boong banget lo! Yang ini cakep kok Git..." Sasa menatapku. Aku tidak peduli dengan omongan Sasa. Aku masih menunggu Gilang. "...atau jangan jangan lu lesbi?"
"Najis! Udah ah, Sasa. Jangan ngaco!" Sasa cuma ketawa ngedenger kalimat-kalimatku. Dasar Sasa!
Aku mengecek email ku. Siapa tau ada email dari Gilang. Ternyata benar! Gilang ngirim email!
Hey Rin. Apa kabar? Oh iya. Bentar lagi gue pulang. Tunggu ya...
Ingin sekali aku membalas email dari Gilang. Tapi... Ah pulsa modemnya abis! Sialan.
"Git..."
"apa?"
"Liat deh..." Sasa menyodorkan handphonenya ke depan mukaku. Ada foto cowo disitu. Siapa dia aku engga tau dan ga mau tau. "...namanya Danu."
"Danu? Pacar baru?"
"Bukaaaaaaaan! Dia sepupu gue! Yang tadi gue ceritain itu loh!"
"Terus? Gue harus apa? Goyang depan lo?"
"Ck!" Sasa berdecak kesal. Hahaha... Sasa... Sasa...
_____________________________________________________________________________
Senin pagi, Aku berangkat kuliah. Sampai di parkiran, ada yang menyapaku. Aku ga tau itu siapa. Tapi perasaan mukanya mirip-mirip...
"Hay Gita!" Suara Sasa terdengar dari belakang cowo ini. Cowo yang menyapaku tadi. "...kenalin. Nama dia Danu."
Cowo tadi menjulurkan tangan nya ke Gita. "Danu. Danu Ardan" kata cowo itu.
Keren sih. Tapi masih kerenan Gilang! kata aku dalam hati kemudian aku membalas uluran tangan Danu. "Gita Fazrin. Panggil Gita aja." Ucapku tersenyum.
Hari ke 21 aku dekat dengan Danu. Dia baik, lembut, ga bawel. Pasti orang-orang sirik sama aku karena aku dekat dengan Danu. Perasaan itu mulai ada. Eh tunggu... Perasaan? Apa aku swuka pada 2 orang sekaligus? Jangan... Jangan sampai!
Aku di bawa ke suatu tempat yang aku juga tidak tau dimana. Tiba-tiba langkah nya berhenti. akupun ikut berhenti.
"Sekarang coba buka matanya!" Katanya setelah melepas ikatan tali hiitam di mataku. Akupun membuka mataku dan waw! Danu membawaku ke danau yang sangat indah. Disini banyak pepohonan. Aku suka pohon...
"Lo suka?" Danu mulai membuka suaranya. Aku hanya mengangguk tersenyum.
"Git, gue mau nanya."
"Nanya apa?"
"Masih single?" Aku hanya mengangguk lagi. "Boleh buat gue bikin lo ga single lagi?" Tanya nya penuh harap. Danu nembak aku? Aku bergikir sejenak lalu... Menganggukan kepala untuk yang ketiga kalinya. Danu memelukku erat.
"Thankyou Gita..." Ucapnya lirih. Seketika, aku lupa pada Gilang..
________________________________________________________________________________
2 bulan aku jalani hari dengan Danu dan sekarang, dia mengajakku menjemput sepupunya. Kini, kita sudah ada di Bandara. Cerita pesawat yang akan segera mendarat dari Jerman terdengar. Danu mulai menarik tangan ku menuju pintu kedatangan orang-orang dari luar negeri tersebut. Orang -orang dari pesawat sudah membuyar keluar. Danu melambaikan tangan nya ke seseorang. Tunggu tunggu... Apa dia...
"Hey, Lang!" Danu menepuk pundak cowo itu. Gilang! YA DIA GILANG! Bodohnya aku sampai lupa kalo Danu juga sepupu Gilang!
Gilang menatap Danu lalu menatap ku. Tatapan matanya menajam setelah melihat tangan ku dan tangan Danu bergandengan.
"Siapa Dan?" tanya Gilang je Danu. Danu menatapku sebentar.
"Oh, Dia Gita. Pacar gue." Ucap Danu dengan senyuman merekah di bibirnya. Gilang menatapku lagi. Maaf Gilang...
_____________________________________________________________________________
Suara bel rumah ku berbunyi. Mama Papa sedang tidak di rumah. Jafi terpaksa aju yang membuka pintu. Ku kira yang datang Danu. Tapi ternyata...
"Hai, Rin..." Arin. Panggilan pertama yang aju dengar setelah bertenu dengan Gilang. Dia Gilang. Aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Oh, hai Lang. Masuk masuk." Ucap ku sedikit canggung. Gilang menggelengkan kepalanya.
"Engga Rin. Gue cuma bentar. Oh iya. Sejak kapan jadian sama sepupu gue?" Gilang bertanya seperti itu. Pertanyaan yang membuat ku kaku. Tanpa sadar, aku menangis.
"Kok nangis?" tanya Gilang lagi. Ya tuhan, Gilaaaang... Tiba-tiba Gilang memeluk ku dan membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Ga perlu nangis. Gue ga pernah larang lo buat pacaran sama siapa aja. Gue bukan siapa-siapa lo dan kita ga terikat hubungan apapun. Satu yang gue minta. Buat Danu bahagia sebahagia gue kalo gue lagi deket sama lo." Menfengar perkataan Gilang, Tabgis ju membuncah hebat. Gilang melepas pelukannya, menatap ku sambil tersenyum sebentar, lalu pergi.
Saat aku ingin menutup pintu rumah ku, sesorang memegang tangan ju. Aku pun berbalik menghadap dia.
"Gue bisa rasain perasaan lo ke Gilang." Danu. Dia Danu.
"Kalo lo sayang, please kejar dia. Walaupun Harus ngorbanin perasaan gue, gue bakal coba ikhlas." Aku mendongkakan kepalaku yang sedari tadi menunduk. Danu mencium pipiku pelan dan pergi. Seperti halnya Gilang.
__________________________________________________________________________________
Hari ini aku pergi bersama Gilang ke aman yang waktu itu pernah aku kunjungi bersama Gilang. Oh iya. Kemarin malam aku putus dengan Danu.
"Rin, yakiin lo mutusin Danu?"
"Dia yang minta, Lang."
"Jadi sekarang lo jomblo?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Gilang memegang tanganku.
"Pacaran sama gue mau?"
"Gue takut Danu marah. Masa iya Baru kemaren gue putus sekarang udah jadian lagi? mana sama sepupunya!"
Gilang tertawa kecil. "Fia kok yang nyuruh gur nrmbak lo sekarang. Tapi tanpa disuruhpun, rencana gue mau nembak lo pas setelah lo sama Danu putus. Jadi lo ga bisa kemana-mana lagi...." Aku menoleh ke arah Gilang.
"Gue mau jadi pacar lo, Lang." Gilang yang mendengarnya langseng memelukku. Gilang, dia kembali...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar