nama gue siapa sih?

Rabu, 30 November 2011

Gilang, Dia Pergi...

Jam sudah menunjukan jam 8 malam. Tapi aku masih malas-malasan dengan boneka Doraemon kesayangan ku. Boneka yang selalu jadi saksi bisu suasana rumah, hati, dan fikiran ku. PR? abaikan saja. Aku males!
   Enggan sekali pergi ke ruang makan walau cacing di perut ku sudah demo minta makan. Aku sendirian di rumah. Mamah, Papah...  Ah engga usah urusin mereka. Toh mereka juga tidak ngurusin aku! Engga siang engga malem mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan aku? Aku hanya di anggap boneka yang tak benyawa! Aku benci hidupku!
   Ku putuskan untuk tidur. Berharap di alam lain, aku mendapati ketenangan hati. Tapi belum setengah jam aku terlelap, suara itu terdengar kembali. Suara yang sudah sering sekali aku dengar. Aku muak!

   "Wanita genit! Pergi pagi pulang malam! Anak kamu di rumah terlantar" Papa. Ya dia papa ku. Bersuara lantang sedang adu argumen dengan seseorang.
   "hahaha... Apa kamu bilang? Wanita genit? Intropeksi dulu baru ngomong! Apa kerjaan kamu? mana penghasilan kamu kalau kamu emang kerja?" Mama. Wanita yang rela ku tempati rahim nya untuk aku diami itu ternyata orang yang keras kepala. Tuhan, aku lelah...

   Aku memang anak yang beruntung. Semua aku punya. Termasuk orang tua macam mereka yang tak pernah lelah untuk terus ribut!
   Aku pergi sementara dari rumah. Mencari udara segar, suasana tenang karena perumahan ini tidak terlalu padat penduduk, dan tentunya makanan karena aku ingat malam ini aku belum makan. Sama sekali belum.
   Aku melewati taman kanak-kanak, SD, dan taman bermain. Taman bermain yang memiliki banyak kenangan saat keluarga kami masih utuh. Papa, mama, aku, dan adik ku. Aku rindu semuanya.
   Perut ku demo kembali. Aha! di berempatan jalan perumahan ku ada tukang nasi goreng. Kesana aja ya? Lagian aku gak mau magh ku kambuh. Saat aku berjalan, tiba-tiba 2 orang datang dari arah depan dengan pakaian yang menurutku 'kurang bahan'. Tuhan, siapa mereka? Aku takut...

   "Aduh, neng cantik, mau kemana malem malem gini keluar..." Satu orang berkicau sambil mencolek pinggang ku. Aku menepis tangan nya yang tidak sopan itu.
   "Apaan sih ih?! Sono pergi! Najis!"
   "Main-main dulu yuk? Ayolaaah!"
   Aku sudah sangat takut.ingin mengambill langkas seribu, salah satu dari mereka menarik tangan ku. Tuhan memang selalu bertolak belakang dengan ku. Apa salahku, tuhan?

   Aku berteriak sekencang-kencang nya. Nihil! 2 orang tadi memegang kuat lenganku lalu menghempaskan aku ke tanah. Hampir, hampir sekali mereka merenggut kebahagiaan terakhirku yang selalu aku jaga sebaik mungkin. Sebelum akhirnya seseorang datang menyelamatkan ku. Ia memukul semua penjahat itu sampai mereka pergi. Disini terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat muka orang yang menyelamatkan aku tadi. Ditambah air mata yang membuat basah mataku. Orang itu pergi.
   "Terimakasih..." Ucapku lirih dan aku yakin ia pasti tidak mendengar kalimat itu. Tapi tunggu! Handbandnya jatuh! Aku bergerak meraihnya. Handband itu bertuliskan huruf 'G'. Apa mungkin itu inisial ama orang tersebut?

++++++++

   Sekolah. Rutinitas yang membosankan. Walaupun aku tidak pernah keluar dari 5 besar, tapi tetap saja aku malas sekolah.
   Pelajaran pertama aku lewati dengan mata tertutup. Aku tidur di kelas. Sampai akhirnya Sasa, teman semeja ku membangunkan aku.
   "Gitaaaa! Bangun! Udah istirahat tau! Anterin ke kantin!" Sasa berteriak. Dengan langkah malas, aku berjala ke kantin bersama Sasa. Dari pada di teriakin lagi kan?

   Sampai di kantin...
   "Sa, cuma nganter kan? Ya udah ya dadaaah!" Ucapku sambil meninggalkan kantin.
   Kelas bukan tujuan utamaku. Disana kebanyakan cewe-cewe lebay yang selalu membicarakan tentang fashion-cowo-fashion-cowo. Ngeliatnya aja males!
   Langkah ku berakhir di taman belakang sekolah. Ayunan keramat ku yang aku pasang saat masih kelas X masih utuh disitu. Di dalam ayunan itu ada beberapa novel yang aku sengaja simpan disana. Sekedar menghilangkan beban. 1 lembar, 3 lembar, 7 lembar, datang seorang cowo keren. Ya. Akui dia memang keren. Dia menghampiriku.
   "Hai..." 
    Apa? Dia menyapaku? Aku hanya membalas dengan senyuman. Jaim dikit bolehlah?
   "Cuma mau ngingetin, jangan suka keluar malem-malem ya?" Hah? kok dia tau? "Oh iya, handband gue ada di elo kan?" Lanjutnya.
   "Jadi kamu..." Ucapku tidak percaya. Ternyata ini si 'G' itu? Beruntungnya aku. Kali ini, tuhan sangat baik kepadaku...
   "Iya. Kenalin, gue Gilang. Gilang Aziz. panggil Gilang aja."
   "Oh, hmm. Gue Gita Fazrin. Bisa dipanggil..."
   "Arin?"  Arin? nama yang tidak terlalu buruk. Aku hanya mengangguk tersenyum. Kami ngobrol seperti orang yang sudah lama kenal. Sampai akhirnya perbincangan kami dipotong oleh bel masuk. Itu pertemuan pertama kami.

+++++++

   Beberapa minggu berjalan, makin hari aku makin dekat dengan Gilang. Hari ini Gilang mengajak ku jalan-jalan ke taman bunga. Ah senangnyaaa...
   Indah. Itulah kesan pertamaku sewaktu melihat taman ini. Ku lihat seekor kupu-kupu terbang bebas. Ingin sekali aku menangkapnya. Seperti 10 Tahun yang lalu. Sebelum Gina pergi...
   "Gilang, ambilin kupu-kupu itu dong!" Rengek ku. Gilang hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik ku ke tempat duduk Kami duduk di situ.
   "Lo tau, Rin? Kupu-kupu juga punya kehidupan. Kita ga berhak ngacauin hidupnya hanya karena dia indah. Dia juga punya sayap sendiri." Gilang menatapku. Aku mengalihkan pandangan ke depan.
   "Tapi cuma itu, Lang yang bikin gue serasa utuh sama keluarga. Semenjak adik gue, Gina, meninggal karena penyakit paru-parunya. Sampai akhirnya keluarga gue kacau. Mereka terlalu sayang sama Gina. Jadinya mereka ga terima gitu Lang. Semenjak itu mereka lebih suka ada di luar rumah. Gue? Mereka ga perduli sama gue!"
   Gilang menatap ku tersenyum. "Coba lo jelasin keinginan lo ke bokap nyokap lo..."
   "Percuma! Mereka terlalu batu!"
   Sekarang, Gilang memegang tangan ku. Hangat. "Coba dulu!" Kata Gilang. Ah. cowok ini...

++++++

   Kejadian sama terulang lagi. Mama Papa ku berantem lagi. Aku sudah capek sama semua ini. Aku keluar kamar dan menghampiri mereka.
   "Kalian apa-apaan sih?! Berantem sana berantem sini. Mau kalian apa sih? Gita disini woy! Jangan anggep Gita ga ada! Apa perlu Gita susul Gina? Hah?!" Ucapku sambil menangis. Mereka terdiam. "Hargain Gita sebagai anak kalian..."
   Mama papa memeluk ku. Baru aku rasakan lagi pelukan mereka. Mama ikut menangis bersama ku.Sedangkan Papa mengelus rambutku.


++++++

   Dua Bulan berlalu sejak pertamakali aku bertemu dengan Gilang. Tapi sekarang Gilang jarang mengontak ku. Kerumah ku pun sekarang sudah tidak lagi. Akhirnya ak menelpon Sasa. Berharap dia memberi tau alamat Gilang. Baru kemarin aku tau kalau dia sepupu Gilang.
   "Halo?... Sa?... Tau rumahnya Gilang ga?... Oh disitu?... Oke makasih sa." Setelah aku mendapat alamat rumah Gilang, aku langsung berangkat ke tempat yang di tuju.
   Tidak susah untuk mencari rumah Gilang. Sampai depan rumahnya, aku memencet bel yang ada disamping pagar rumah tersebut. Tidak lama, keluar seorang wanita keturunan cina yang sedang menggendong anjing.
   "Permisi, Gilangnya ada?"
   "Gilang? Oh anaknya pak Rudi ya? Mereka udah pindah 2 bulan yang lalu. Sekarang rumah ini sudah saya beli." Mendengar ucapan wanita tersebut, aku hampir menangis. Ku ucapkan terimakasih ke wanita itu, lalu pergi ke taman belakan sekolah.

+++++++

    Sampai di taman belakang sekolah, aku langsung menangis. Gilang... Kenapa kamu harus pergi?
    Tiba-tiiba seseorang memegang pundaku. "Jangan nagis Rin. Maaf kalo aku ga ngasih kabar. Sekali lagi maaf. Aku terpaksa. Maaf." Aku memegang tangan nya. mengisyaratkan agar dia jangan pergi. Dia tersenyum. Aku mulai  melepaskan genggaman ku perlahan. Gilang, Dia pergi...



__________________________________________________________________________________________

1 komentar:

  1. cerita pribadi nih? kaya sinetron" dah. hehehehe! sory

    BalasHapus